Sabtu, 18 Desember 2010

MATA KULIAH TAFSIR TARBAWY

TAFSIR AL-MUMTAHANAH [60] : 8
(Tafsir al-Qur`anul Majid, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Misbah, Tafsir al-Maraghi)


MAKALAH



Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Tafsir Tarbawy Semester III
Pengampu : Drs. Najamuddin M.Ag



images.jpg







Oleh :
TAUFIQ
G000090192





JURUSAN TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010


PENDAHULUAN
Al-Qur`an yang diyakini umat Islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak lagi benar adanya, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran dan berbagai petunjuk guna sebagai pedoman hidup dalam kehidupan manusia ini.
Al-Qur`an berbicara tentang pokok-pokok ajaran tentang Tuhan, Rasul, kejadian, dan sikap manusia. Hingga pun dalam pembahasan kali ini berusaha menguraikan maksud dari ayat al-Qur`an Al-Mumtahanah [60] : 8, yang berbicara tentang kerukunan antar hidup umat beragama, sebagaimana tertulis dengan indah dalam mushaf (al-Qur`anul karim) yang begitu rapi :
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang ….. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Al Mumtahanah [60] : 8
Dengan merujuk beberapa tafsir seperti Tafsir al-Qur`anul majid, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Misbah, dan beberapa catatan lainnya, berusaha menjelaskan dengan singkat makna yang terkandung dalam ayat diatas.
Dengan memanjatkan rasa puja dan puji syukur serta patuh pada Baginda Rasulullah Saw, semoga kita semua termasuk umatnya. Tidak kurang lebih, bila dalam pemaparan tulisan kali ini bila terdapat beberapa kekurangan mohon dimaklumi.
PEMBAHASAN
 
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berbuat adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil".
Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa Qatilah (ibu kandung Asma, yakni seorang kafir) datang kepada Asma binti Abi Bakar (anaknya). Setelah itu Asma bertanya kepada Rasulullah Saw : bolehkah saya berbuat baik kepadanya? Rasulullah Saw menjawab : Ya, (boleh).[1]
Dalam riwayat lain pula dikemukakan bahwa Sitti Qatilah (bekas istri Abu Bakar) yang telah diceraikan pada zaman Jahiliyah datang kepada anaknya bernama `Asma binti Abi Bakar, membawa bingkisan. Asma menolak pemberian itu, bahkan tidak memperkenankan ibunya masuk kedalam rumahnya. Setelah itu ia mengutus seseorang kepada Aisyah (saudaranya) untuk menanyakan ini pada Rasulullah Saw, hingga rasul pun memerintahkan untuk menerima pula bingkisannya.[2]

Tafsir Al-Qur`anul Majid
Allah mencegah kita membuka rahasia-rahasia perang dan lain-lain yang menguntungkan musuh. Tetapi apakah Allah juga melarang kita menolong mereka dengan harta kekayaan serta berlaku adil.
Pertanyaan ini dijawab oleh Allah dengan firman-Nya "Allah tidak melarang kamu berbuat ihsan kepada orang-orang kafir yang tidak memerangimu karena agama dan mengusirmu dari kampung halamanmu serta tidak membantu pula orang-orang yang mengusirmu, yaitu orang-orang yang khuza'ah dan lain-lain yang telah membuat perjanjian damai dengan Rasulullah".
Allah menyuruh Rasul-Nya berbuat kebajikan kepada mereka dan menepati janji hingga berakhirnya masa perjanjian. Diriwayatkan oleh ahmad dan lain-lain dari Abdullah ibn Zubair: "pada suatu hari Qutailah binti Abdil Uzza (masih kafir) datang kepada anaknya asma' menolak hadiah itu, bahkan melarang dia masuk ke dalam rumah sebelum asma' bertanya kepada aisyah, bagaimana pendapat rasul". Berkenaan dengan itu turunlah ayat 8 dan 9. Nabi menyuruh asma' menerima hadiah dari ibunya, dan menyambutnya sebagaimana mestinya.
Ada yang menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai Khuza'ah Banil Harts, Kinanah, Muzainah dan beberapa golongan Arab yang telah berdamai dengan Rasulullah untuk tidak memeranginya dan tidak pula memihak kepada musuh.[3]

Tafsir Ibnu katsir
Allah tidak melarang kamu berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kamu karena agama, seperti kaum wanita dan orang-orang yang lemah dari mereka. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar r.a. berkata,
قدمت أمي وهي مشركة في عهد قريش إذعاهدوا فأتيت النبي ص.م فقلت : يارسول الله إن أمي قدمت وهي راغبة أفأصلها ؟ قال : نعم صلي أمك
"Ibuku datang berkunjung, sedangkan is masih dalam keadaan musyrik namun berada dalam ikatan perjanjian dengan quraisy. Lalu aku datang kepada nabi dan bertanya, "ya Rasulullah, ibuku datang dan ia sangat ingin bertemu denganku. Apakah aku boleh menemuinya? ' Rasulullah menjawab, ' ya temui ibumu." (hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Dan firman Allah SWT, Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat adil adalah sebagimana yang telah diterangkan dalam sebuah hadits yang shalih,
Artinya:
المقسطون علي منابر من نور عن يمين العرش؛ الذي نيعدلون في حكمهم وأهاليهم وماولوا
"orang-orang yang berbuat adil itu berada diatas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya sebelah kanan Arsy, yaitu orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum keluarga-keluarga mereka sendiri dan orang-orang yang mereka pimpin".

Tafsir al-Misbah
Dalam ayat-ayat sebelumnya yang terkesn untuk memusuhi kaum non muslim, maka kehadiran ayat ini untuk menapik, menguraikan kembali bahwasanya prinsip dasar hubungan sosial antar sesama perlu dibangun. Oleh karenanya Islam sebagai agama perdamaian, dengan seimbangnya Allah menjelaskan dalam ayat ini menjaga perdamaian terhadap non muslim, selama mereka tidak memerangi dalam hal agama ataupun mengusir kamu dari negeri kamu.
Pernyataan لم يقاتلو كم / tidak memerangi kamu menggunakan bentuk mudhari` / present tense, yang secara faktual dipahami "mereka sedang memerangi kamu" sedangkan kata في yang berarti dalam mengandung isyarat bahwa ketika itu mitra bagaikan berada dalam wadah tersebut hingga tidaj ada dari keadaan mereka berada di luar wadah itu. Dengan kata في الدين / dalam agama  tidak masuk peperangan yang disebabkan karena kepentingan duniawi yang tidak ada hubungannya dengan agama dan tidak termasuk pula siapapun yang secara faktual untuk memerangi umat Islam.
Kata تبروهم terambil dari kata بر yang berarti kebajikan luas. Salah satu nama Allah Swt adalah al-Bar. Penggunaan kata dalam ayat ini tercermin untuk melakukan aneka kebajikan bagi non muslim selama tidak membawa dampak negatif bagi kaum muslim itu sendiri.

Tafsir al-Maraghi
Dalam tafsir ini, dijelaskan secara umum yang tidak terlepas dari ayat sebelum dan sesudahnya (ayat 7 dan 9), bahwasannya ketika janji Allah kepada orang-orang mukmin melarang untuk bersahabat dengan orang-orang kafir dan mencintai mereka, dan membuat bagi orang-orang mu`min itu sebagai teladan yang baik dari Ibrahim dan kaumnya. Hingga Allah pun menambahkan bahwa Dia akan mengubah tabiat orang musyrik dan menanamkan dalam hasrat mereka rasa cinta kepada Islam.
Dikisahkan pula khuza`ah dan kabilah-kabilah yang lain berunding dengan Rasulullah Saw untuk tidak berperang dan melakukan pengusiran. Allah pun memerintahkan pada Rasulnya untuk berbuat baik dan menepati janji kepada mereka selama masa perjanjian dengan mereka. Kemudian Allah menambah urusan itu dengan jelas dalam suatu firman-Nya yang bermaksud, Akan tetapi Dia melarangmu  bersahabat dengan orang-orang yang mengadakan permusuhan denganmu, sehingga mereka memerangi dan mengusir mu seperti orang-orang musyrik mekkah". Dan Allah mempertegas "sebab mereka bersahabat dengan orang-orang yang tidak boleh dijadikan sahabat, dan meletakkan persahabatan mereka bukan pada tempatnya, bahkan menyalahi perintah Allah dalam hal itu".
PENUTUP

Simpulan --- Jelaslah dengan berbagai pandangan beberapa tafsir yang menafsirkan ayat tersebut, menguraikan secara umum, betapa Islam menjunjung tinggi kedamaian, keharmonisan, kerukunan hidup antar umat beragama sangat diperlukan. Tentulah ayat ini relevan dengan dunia sekarang, alasan agama bukanlah menjadi salah satu penghindaran untuk bekerjasama dalam hal mencapai kesuksesan dunia. Dalam dunia lapangan kerja, Islam tidak semata bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan agama lain untuk bisa bekerja sama dalam hal-hal kemanusiaan. Seperti permasalahan Ekonomi, Lapangan Kerja, dan lain sebagainya selama tidak dicampur adukkan masalah aqidah / kepercayaan, bekerja sama dalam pembangunan sosial tapi kalau di kembalikan dalam urusan agama, Islam menyatakan pernyataan sikap "untukmu Agama mu dan untukku Agamaku". Hal lain juga, pelarangan Allah untuk memerangi kaum non muslim bilamana mereka memerangi kamu ataupun mengusir kamu dari tempat tinggalmu.
Justru dengan kedamaian yang di nampakkan dalam Islam itu sendiri guna berfungsi menyatakan kepada agama lain benar, adanya Islam adalah agama yang damai, tenang, hingga terkesan pada agama selain Islam. Maka dengan kehidupan rukun antar agama, benar sangatlah diperlukan guna menjaga titik keharmonisan, menghargai satu sama lain terlebih dalam kondisi dunia sekarang yang sangat beragam agama-agama yang hadir di muka bumi ini.

Nilai Pendidikan yang dapat diambil:
·         Dalam hidup kebersamaan hendaklah menjaga kerukunan, keharmonisan sesama.
·         Ada saat-saat tertentu untuk bersikap lemah lembut (rukun) antar sesama dan ada saat-saat tertentu pula untuk bisa bersikap tegas / teguh konsisten.


DAFTAR BACAAN
è Asbabunnuzul al-Qur`anul Karim
è Tafsir al-Maraghi
è Tafsir AL-Qur`anul Majid (5), oleh Teugku Muhammad Hasby ash-Shiddiq, Pustaka Rizki Putra (2000) : Semarang
è Tafsir al-Misbah (14) oleh M. Quraish Shihab, Lentera Hati (2000)
è Tafsir Ibnu Katsir (4), oleh Muhammad Nasib ar-Rifa'i, gema insani (2000) : Jakarta
è Tafsir ayat-ayat Pendidikan, oleh Abuddin Nata, PT Raja Grafindo (2002) : Jakarta


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari asma binti abi bakar, selengkanya lihat asbabun nuzul al-qur`anul karim
[2] Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazar yang dishahihkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Abdullah bin Zubair
[3] Baca Bukhari 51, 59 no. 1272; Muslim hd. 5950

Tidak ada komentar:

Posting Komentar